Rabu, 23 Agustus 2017

Benarkah Anda Mencintai Rasul?

Benarkah Anda Mencintai Rasul?
 
Mengikuti Pengajian Syeikh Abdul Qadir al-Jilany 9 Jumadil Akhir 545 H, di Madrasahnya.

Hadits Nabi saw :
"Ada seseorang yang datang ke beliau dan berkata, "Sungguh aku sangat mencintaimu dalam Allah Azza wa-Jalla," kemudian Nabi Saw bersabda, "Pakailah penutup bencana dan pakailah penutup kefakiran."

Maknanya, karena engkau hendak memakai sifatku, maka berselaraslah dengan sifatku. Karena syarat dari cinta adalah keselarasan.; Abu Bakr Shiddiq ra, misalnya, ketika menyatakan cintanya kepada Rasulullah saw,  ia nafkahkan seluruh hartanya, dan berselaras dengan sifat Nabi saw, menemani dalam kefakiran, percintaan yang penuh dengan beban derita. Ia berselaras lahir dan batin, hakikat maupun syariat.

Sedangkan kalian wahai pendusta, mengaku mencintai orang-orang saleh, sementara engkau simpan dinar-dinarmu dan dirhammu, sedangkan engkau ingin dekat dengan mereka dan berguru dengan mereka.

Yang cerdaslah. Sebab yang demikian adalah percintaan dusta. Sang pecinta tak pernah menyembunyikan miliknya dari yang dicinta, dan memprioritaskan kekasihnya dari segala yang ada, dimana kefakiran senantiasa menempel pada diri Nabi saw. Hingga beliau bersabda:
"Kefakiran  lebih cepat pada orang yang mencintaiku dibanding mengalirnya air ke muaranya." (Al-Hindy: Kanzul Umal)

Aisyah ra, mengatakan, "Sepanjang hidup bersama Rasul SAW, dunia sepertinya tidak memihak pada kami. Ketika beliau wafat, dunia serasa tumpah.  Maka syarat mencintai Rasul adalah kefakiran dan syarat mencintai Allah adalah cobaan."

Diantara para Sufi berkata, "Cobaan diserahkan kepada para kedekatan dengan Allah, agar tidak seseorang tidak mengklaim cintanya Allah Ta'ala, sementara dusta, munafiq dan riya'nya ada dalam dirinya. "

Karena itu kembalilah dari pengakuan dan dustamu. Jangan khawatir dengan kepala anda, jika anda datang, maka anda benar. Jika tidak demikian, jangan ikuti kami. Jangan kau banggakan hartamu, karena bukan itu yang diterima Allah, bahkan justru akan menghinakan dirimu. Jangan bermain dengan ular dan binatang buas, ia akan memangsamu. Jika kalian pawang ular silakan datang pada ular, jika anda kuat, silakan berhadapan dengan binatang buas. Jalan menuju Allah Azza wa-Jalla itu  butuh kejujuran dan cahaya ma'rifat. Dan dengan cahaya itu akan muncul di hati para Shiddiqun, yang tak pernah surup oleh siang dan malam.

Anak-anak sekalian, berpalinglah dari orang munafiq yang kontra terhadap amarah Allah Ta'ala. Jadilah orang cerdas. Jangan terlalu dekat dengan orang-orang zaman ini yang bisa memangsa anda, dengan gaya dan tutup baju berbeda. Lihatlah dengan cermin renungan di dalamnya, dan mohonlah kepada Allah Ta'ala agar memperlihatkan padamu dan mereka. Aku telah diberi informasi mengenai makhluk dan Khaliq, namun saya jumpai keburukan justru pada makhluk dan kebajikan ada di sisi Khaliq.

Oh, Allah, selamatkan kami dari keburukan makhluk, berilah kami rizki dari kebajikanmu, dunia dan akhirat, sungguh aku mengharapkan dirimu bukan untuk diriku, tetapi demi dirimu, dalam bebanmu itulah aku ingin bebaskan. Aku tidak mengambil sesuatu darimu kecuali itu untuk dirimu sendiri, bukan untukku. Bagiku sudah dikhususkan, tidak butuh dari apa yang saya ambil darimu. Bagiku tak ada lain kecuali bekerja atau pasrah pada Allah. Aku sama sekali tidak menunggu apa yang kalian datangkan padaku, sebagaimana orang-orang munafiq yang penuh riya' yang merasa telah pasrah tetapi alpa kepada Allah Azza waJalla. Akulah pendebat ahli dunia, karenanya kalian harus lebih cerdas.


Jangan sesekali membanggakan sesuatu di hadapanku, karena aku tahu mana kebaikan dan keburukanmu - atas pertolongan Allah Azza wa-Jalla dan pemberian keistemewaan padaku -- . Bila anda ingin kebahagiaan jadilah kalian itu pasrah pada tonggak penghalau yang akan aku tancapkan di otakmu, hawa nafsumu, watakmu, syetanmu, musuh-musuhmu, dan balatentaramu yang buruk.

Mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa-Jalla untuk menghadapi semua musuhmu itu. Orang yang ditolong adalah orang bisa sabar menghadapi mereka, sedangkan orang yang hina adalah orang yang menyerahkan pada musuh-musuhnya.

Banyak sekali ancaman, tetapi sumbernya satu. Banyak penyakit sedangkan dokternya satu. Karena itu serahkan penyakit jiwamu kepada dokter, dan jangan curiga apa yang hendak dilakukan oleh dokter padamu, karena dia lebih tahu penyakit yang ada dalam dirimu, obatnya dan cara menyembuhkannya. Serahkan dirimu padanya dan kontra kepadanya, maka anda akan dapatkan kebaikan dunia akhirat.

Kaum sufi senantiasa diam total hatinya, pasrah total jiwanya dan mengalami kedahsyatan universal. Bila sudah sempurna bagi mereka seperti itu dalam waktu yang lama, ia bicara seperti benda-benda padat bicara esok di hari kiamat, tidak bicara kecuali kalau digerakkan untuk bicara olehNya. Tidak mengambil kecuali jika diberi olehNya, tidak meraih keleluasaan kemudahan manakala tidak diberi keleluasaan, hati mereka bersenayawa dengan para Malaikat. Sebagaimana firman Allah:
"Mereka tidak mengingkari Allah Ta'ala atas apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka melakukan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka." (At-Tahrim 6)

Bersenyawalah dengan para Malaikat, dan raihlah derajat meningkat dengan mereka melalui ma'rifatullah Ta'ala dan mengetahuiNya. Para Maialakat menjadi pembantu mereka (kaum sufi siddiqun) dan pengikut mereka meraih faidah dari mereka, karena aturan Ilahi melimpah pada hati mereka. Karena hati mereka terjaga dari seluruh ancaman yang hendak menyerang jasad, rumah dan jiwa mereka. Sedangkan hati para Sufi itu tidak pernah tersentuh oleh ancaman apa pun.

Bila anda ingin sampai kepada derajat mereka, hendaknya anda mewujudkan hakikat Islam, lalu meninggal dosa yang tampak dan tersembunyi dalam batin anda, kemudian wara' yang menyembuhkan, lalu zuhud terhadap hal-hal yang dibolehkan di dunia, lantas merasa cukup dengan anugerah dan keutamaan Allah Ta'ala dengan kedekatan padaNya. Jika benar kedekatanmu padaNya, akan tumpahlah anugerahNya padamu. Allah akan membuka pintu-pintu pemberianNya: Pintu Kelembutan, Pintu Rahmat dan Pintu AnugerahNya.

Dunia disempitkan bagimu, kemudian dileluasakan hingga suatu batas tertentu. Inilah individu dari kaum Waliyullah dan Shiddiqun, semata karena pengetahuan Allah atas ketaqwaan mereka, karena mereka tak pernah disibukkan selain Dia.

Sedangkan orang yang kalah, dunia ada digenggamannya karena mereka lebih suka santai dan beres, mereka masuki wilayah duniawi, mereka mencarinya, ketika dunia di dapatkan malah mereka sibuk dengan apa yang didpatkan, duduk bersanding dengan dunia, tidak sibuk dengan Allah. Fakta ini menimpa pada umumnya orang.
Sedangkan komunitas sufi tergolong pengecualian, dimana mereka mengikuti aturan Nabi saw, manakala dunia ada di hadapannya, sama sekali tidak menggeser baktinya kepadaNya, sama sekali tidak menoleh pada pemberianNya, karena mereka telah sempurna zuhudnya, sehingga mereka tidak menoleh pada kekayaan duniawi di muka bumi.
Beliau Nabi SAW bersabda:
"Oh Tuhan, hidupkan diriku miskin, matikan diriku miskin, dan gabungkan diriku dengan kaum miskin." (Hr Tirimidzi)
Ia pun tahu bahwa pemberianNya tak akan pernah putus, karena itu ia tak pernah berambisi mencarinya…..

Anak-anak sekalian, kalian butuh iman yang memperjalankan diri anda di Jalan Allah Azza wa-Jalla, dan rasa yaqin yang meneguhkan di jalan itui. Anda butuh pengikat dalam suluk thariqat ini, dan berakhir dengan iman. Beda dengan jalan menuju Makkah, butuh iman dan pengikat tali, sedangkan thariqat ini butuh pengikat tali dan iman, permulaan dan pangkalnya.

Dari Sufyan ats-Tsaury ra, bahwa dalam kisahnya, ketika pertama kali mencari ilmu di perutnya terikat tali sabuk yang didalamnya ada 500 dinar, lalu diinfakkan sebagiannya, ia belajar sementara di tangannya ada sisa dinar, sembari berkata, " kalau bukan karenamu, pasti saya ikat sapu tangan." Ketika ia sudah berhasil meraih pengetahuan dan mengenal Allah Azza wa-Jalla ia menginfakkan semuanya tanpa sisa kepada fakir miskin dalam sehari itu, dan mengatakan, "Jika langit adalah besi, hingga tak pernah hujan, dan bumi adalah sahara yang tak pernah tumbuh pohon, sementara aku masih ingin berharap meraih rejeki, sungguh aku tergolong kafir."

Oleh sebab itu anda tetap ikhtiar bekerja dan bergantung dengan isntrumen kerja, manakala imanmu belum kuat. Lalu pindahlah dari instrument duniawi itu kepada yang menciptakan sebab akibat dunia. Para Nabi saw, pada awal mulanya tekun bekerja, dan bergantung dengan sebab akibat dunia, dan akhirnya tawakkal. Mereka memadukan antara ikhtiar dan tawakkal, sebagai awal dan akhir, syariat dan hakikat.

Wahai orang yang tertutup hatinya, jangan kau celahi ikhtiar dalam tawakkal, terhadap distribusi harta yang ada pada manusia, hingga membuatmu kufur ni'mat pemberian Allah Azza wa-Jalla, dan Dia menjadi marah dan menjauhkan dirimu dariNya. Meninggalkan usaha dan ikhtiar untuk hidup bersama makhluk merupakan siksaan dari Allah Azza wa-Jalla.

Kaum sufi tak butuh kegembiraan atas deritanya, tak butuh meletakkan beban karena yang dipikulnya, tak ada kesejukan mata, atau terentas dari cobaannya hingga mereka bertemu Tuhannya Azza wa-Jalla. Liqo' atau pertemuan ada dua: Pertemuan di dunia dengan hatinya dan rahasia hatinya, dan ini sangat langka. Dan pertemuan kedua di akhirat. Bertemu Allah itulah kegembiraan, kebahagiaan, kesenangan. Kalau sebelum bertemu, segala cobaan.

Anak-anak sekalian…
Cegahlah kesenangan birahi dan kenikmatan-kenikmatan. Makanlah makanan yang suci yang tak bernajis. Yang suci itu pasti halal, dan haram itu najis. Berilah makanan yang halal hingga anda terhindar dari adab buruk di hadapan Allah.
Ya Allah ma'rifatkan kami padaMu hingga kami mengenalMu. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Benarkah Anda Mencintai Rasul?

Benarkah Anda Mencintai Rasul?   Mengikuti Pengajian Syeikh Abdul Qadir al-Jilany 9 Jumadil Akhir 545 H, di Madrasahnya. Hadits Nabi s...