Rabu, 23 Agustus 2017

Perang Melawan Riya' dan Ujub

Perang Melawan Riya' dan Ujub
 

"Maka, celaka bagi orang yang sholat, yang kewtika sholat mereka alpa, yaitu orang yang berbuat riya'." (Al-Ma'uun 4-6)

"Maka siapa yang berharap bertemu Tuhannya hendaknya beramal dengan amal ibadah yang saleh dan tidak sedikit pun memusyrikkan Tuhannya ketika beribadah." (Al-Kahfi 110)

Hari-hari pertarungan besar dalam Perang Besar dalam diri ummat Islam tak kunjung reda. Perang melawan diri sendiri, melawan hawa nafsu, melawan ego dan segala lapisan pasukan kejahatan jiwa. Semua bisa dirasakan dengan kejernihan batin dan kebersihan jiwa, sebegitu tipis batas-batasnya.

Mari kita tengok barisan-barisan moral buruk, akhlak jiwa yang runtuh, dan tatanan hati yang tercerabut dari akarnya lalu menimbulkan berantakan dalam kehidupan. Dua divisi pasukan keburukan ini telah mengoyak jiwa-jiwa ummat dalam seluruh lapisannya, mulai dari kalangan Ulamanya, kalangan Ustadznya, kalangan tokoh, dan khalayak public ummatnya, bahkan kalangan ahli ibadah dan kaum sufi. Divisi Riya' dan 'Ujub.

Ilustrasi:
Gelombang Riya' bisa kita potret dalam jiwa kita masing-masing, apakah kita masuk dalam kategori komunitas-komunitas di bawah ini:
Ada seorang aktifis ibadah, tetapi ia tampakkan wajahnya yang pucat, tubuhnya yang kering, agar ia disebut sebagai orang yang begitu serius dalam perkara agama, lebih memilih akhirat ketimbang dunia, bahkan ketika bicara dengan suara yang direndahkan, matanya disayu-sayukan, senyumnya diramah-ramahkan, dan setiap berbicara selalu disela dengan kalimat-kalimat seperti "Subhanallah….., Masya Allah….., Astaghfirullah…, Alhamdulillah…" Sementara di hatinya tidak sama sekali ada denyut nadi Allah, melainkan hanya agar disebut sebagai sosok yang dekat dengan Allah, agar disebut sebagai hamba yang religius.
Ada lagi yang lebih ekstrim lagi dengan mengibarkan panji-panji agama atas nama syiar, dengan performen fisik dan pakaian yang serba menggambarkan seseorang yang suci, meniru gaya pakaian-pakaian Hindustan, Timur Tengah, dengan dua tanda sujud di jidatnya, untuk sebuah identitas dan kebanggaan paling religius dibanding yang lainnya. Untuk sebuah identitas sosial keummatan kah atau untuk Allah? Jika ditanya demikian, ia jawab, "Ini semua demi syiar Islam, demi kepentingan Allah, demi Laailaaha Illallah Muhammadurrasulullah…" kalimat untuk mempertahankan diri, membela diri, keuntungan diri atau memang demikian adanya?
Sekolompok orang yang mencari dukungan massa melalui aktifitas atas nama agama, tetapi hanya kepentingan politik belaka, bahkan atas nama simbol-simbol agama untuk kepentingan bisnis belaka, lalu terjadi politisasi agama, bisnis atas nama agama, membangun mesin uang atas nama agama, faktanya untuk pemenuhan hasrat dirinya, pribadinya, popularitasnya.
Nah, kali ini seorang tokoh agama, yang mulai dikerubuti ummat, lalu ia semakin tampil sebagai agamawan atau Ulama, atau ustadz atau Kyai, yang berlomba-lomba mencari dukungan massa. Seluruh dirinya dicurahkan demi sebuah "Kenikmatan bersama massa", bukan untuk menyelamatkan massa menuju Jalan yang diridhoi oleh Allah. Bahkan pada saat yang sama ia mulai takut ditinggalkan massanya, atau takut meninggalkan massanya. Dari awal hingga akhir, kata kunci "ikhlas" terkubur lama, diganti dengan visual-visual yang dibanggakan pada orang lain.
Ada orang yang begitu hobinya melakukan aktivitas sosial, memberikan sumbangan sosial, amal jariyah keagamaan, hanya karena ia menikmati interaksi tersebut, karena pada saat yang sama ia bangga sebagai penyumbang, apalagi jika disorot media massa. Bahkan di sudut sana juga ada yang bermunculan, "Kok rasanya tidak enak sama tetangga dan kawan-kawan, kalau tidak ikut nyumbang….".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Benarkah Anda Mencintai Rasul?

Benarkah Anda Mencintai Rasul?   Mengikuti Pengajian Syeikh Abdul Qadir al-Jilany 9 Jumadil Akhir 545 H, di Madrasahnya. Hadits Nabi s...